Violet Letter

Secarik kertas tergeletak begitu saja di atas meja kayu di samping tempat tidur, bergoyang lemah ditiup angin dari pintu menuju balkon yang terbuka. Seorang lelaki muda berusia duapuluh empat tahun berdiri di balkon itu, memunggungi kamar sambil menatap macetnya Jakarta pagi dari ketinggian sementara rambut hitam panjangnya berkibar.

Lelaki itu mendesah dan merogoh kantungnya. Dia menemukan sebatang rokok yang sudah tertekuk-tekuk dan menyulutnya. Asap terhembus pelan dari sela-sela bibirnya dan melayang ke udara sebelum menghilang ditiup angin.

Dio sayang,

Aku tahu ini sangat pengecut dan kamu akan sangat marah saat membaca surat ini, namun aku tidak tahu bagaimana cara terbaik menyampaikan ini selain cara tidak langsung seperti ini.

Kamu lelaki pintar, kamu pasti sudah tahu apa yang ingin aku sampaikan di surat ini. Aku tidak bisa melanjutkan apa yang kita miliki saat ini, aku sangat-sangat meminta maaf atas keegoisanku tapi apa yang kita jalani saat ini sudah sampai di titik di mana kita harus berakhir.

Suara dengung kompresor-kompresor AC terdengar statis seirama dari kiri dan kanan balkon tempat Dio berdiri. Dengan kedua tangannya sebagai tumpuan, lelaki itu mengangkat tubuhnya dan berayun pelan-pelan ke sisi lain balkon itu. Rokok yang terjepit di antara bibirnya terlepas jatuh dan melayang tigapuluh lantai ke bawa, lalu dalam sehembusan nafas, tubuh lelaki itu kembali berayun ke sisi dalam balkon. Jemari sang pemilik tubuh itu bergetar, pun sepasang bibir yang langsung tersumbat sebatang rokok lagi.

Asap kembali melayang ke udara, dengungan di balkon itu masih terdengar senada.

Apa itu cinta, Dio? Aku pun tidak tahu. Di saat kita bertemu, aku kira aku sedang jatuh cinta; pada suaramu, pada sikapmu, pada penampilanmu, pada karyamu, pada keseluruhan sosokmu. Dan memang aku benar, aku mencintai sosokmu, tapi aku tidak tahu apakah aku mencintai dirimu.

Kita berdua serupa, dua sosok yang berdiri di panggung yang sama. Kita mengenakan topeng dan berdiri di bawah jutaan cahaya menghadapi ribuan manusia yang memuja. Seperti pun aku padamu dan sebaliknya.

Namun aku merasa di satu sisi kita berbeda.

Kamu tahu, aku merasa bahagia setiap kali aku bersama kamu. Aku merasa diriku diterima seperti adanya, kamu memberikan aku kebebasan, kenyamanan, sehingga aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa satupun topeng menutupi. Tapi entah kenapa aku tidak bisa melihat dirimu melebihi topeng yang kau tunjukkan kepadaku dan ke seluruh dunia.

Dio, aku menyadari bahwa aku belum mencintai dirimu. Aku mencintai sosokmu, karyamu, persona yang kamu berikan pada dunia. Aku mencintai topengmu dan kamu tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk mencintaimu melebihi itu.

Maaf, aku harus pergi sebelum aku terjebak terlalu dalam.

Love,
~Violet

I don’t know about you, but this sounds full of shit for me,”ujar seorang wanita yang mendadak berdiri di samping Dio. Dia menjulurkan tangannya yang menjepit dua buah botol bir di antara jemarinya sementara tangan satunya menggenggam surat tersebut.

You’re a heartless bitch, Ay. You know that?” gumam Dio sambil melemparkan puntung rokoknya ke pojokan balkon.
I know. Beer?” balas wanita itu.

Dio mengambil botol dari tangan Aylin dan menenggak isinya.

“Boleh gua simpen nggak? Kayaknya bisa laku mahal kalau gua jual,” seloroh Aylin sambil duduk di samping Dio.
“Tai.”
“Ayolah, biar gua bisa upgrade ke Gibson.”
“Bodo. Lo gimana caranya bisa masuk? Terus ngapain lo ke sini juga?”

Aylin mendesah.

“Vio nelpon, nangis-nangis. Dia cerita soal ninggalin elu, cerita soal surat, tapi nggak jelas karena… ya lu tahu lah cewek macam dia kalau nangis kayak gimana. Dramatis.”
“Dan gimana caranya lo masuk apartemen gue?”
“Pintunya nggak dikunci pas dia keluar.”
“Tsk.”
“Kalau dia kunci gimana caranya elu bisa keluar? Kunci kamar lu kan cuma satu.”
“Oke.”

Hening sejenak saat kedua orang tersebut menenggak minuman di botol yang mereka genggam.

“Lu bakal kejar dia?”
“Dia nggak mau dikejar, Ay.”
“Nggak sensitif.”
“Gue nggak yakin apa yang dia mau bisa gue kasih, Ay.”
“Bego. Pantesan aja lu rockstar tapi seret cewek.”

“Temenin gue potong rambut yuk,” potong Dio sambil berdiri. “Sekalian gue mau ngecat juga.”
“Ngecat warna apaan?”

Dio membalikan badan dan menatap Aylin sambil tersenyum tipis sambil mengangkat bahu.

“Ungu,” lanjutnya, menyudahi pembicaraan.