Red Knight

Suara decit ban terdengar saat sebuah mobil sport warna ungu menikung di jalan tol yang sepi. Salju berjatuhan dari langit dan menguap seketika terhantam panasnya kap mesin sedan hitam yang sedang dikejar mobil ungu tersebut. Langit belahan utara bumi dihiasi barisan rasi bintang, seolah tidak peduli dengan berisiknya dunia di bawah naungannya.

Di balik kemudi mobil ungu itu, seorang pemuda mengendalikan kendaraan tersebut dengan lincah. Ujung bibirnya terangkat sebelah dan kacamata merahnya berkilat-kilat memantulkan sinaran dari lampu jalanan. Seiring laju mesin rotary di balik ruang mesin yang luas, suara knalpot meraung keras memekakkan telinga.

“Oi, fokus. Jangan terlalu bersenang-senang!” ujar sebuah suara dari bawah kaki pemuda itu.
“Oke, okee…” balasnya sambil setengah tertawa.

Mobil ungu itu melaju sedikit lebih kencang dari sebelumnya, sisi depannya kini sejajar dengan bagasi sedan yang dikejarnya. Posisi mereka bertahan sampai beberapa lama, dan di belokan selanjutnya mobil ungu itu memberikan dorongan kecil di sisi sedan hitam dan membuat lajunya oleng. Diiringi decitan ban, mobil ungu itu berhenti sementara mobil lawannya berguncang keras dan terguling di aspal sebelum menghajar pembatas jalan.

Pintu mobil sport ungu itu terbuka, dan pemuda berkacamata dengan lensa merah itu melangkah keluar. Tubuhnya tinggi ramping dengan garis otot terlihat jelas di lengannya yang dihias tato ular yang melingkar dari bahu sampai punggung tangan. Rambutnya yang berwarna pirang cerah panjang melewati pinggangnya dan terikat rapi, menyisakan belahan rambut membingkai sisi wajahnya.

Suara bergemericik dari beberapa rantai yang terurai dari pinggang ke kantung celananya terdengar saat dia melangkah mendekati sedan hitam yang terbalik itu. Cahaya lampu jalan membuat bayangannya terlihat memanjang di atas aspal, kontras dengan salju putih yang jatuh dari langit.

“Kamu berlebihan,” bayangan lelaki itu bersuara.
“Aku melakukan ini pro bono, setidaknya biarkan aku sedikit menikmatinya,” balas lelaki pirang itu.
“Ya, sepantasnya aku sudah hafal kelakuanmu yang satu itu. Tergambar jelas dari selera busanamu.”
“Ayolah…”

Tedengar suara kaca pecah saat sepasang tangan manusia menjulur keluar dari sisi mobil itu. Seorang lelaki tua dan gempal merangkak keluar, dia merintih meminta tolong sambil menggapai-gapai ke arah pemuda pirang itu.

“Tidak perlu akting, aku tahu siapa kamu sebenarnya!” pemuda pirang itu berteriak sambil menunjuk lelaki sekarat di hadapannya itu.
“Aku?” bayangannya kembali bersuara.
“Kami tahu siapa kamu sebenarnya!” teriak lelaki itu lagi.

“Norak.”
“Berisik.”

Lelaki tua itu mengerang pelan, suaranya bergetar saat dia perlahan bangkit. Rambutnya yang tipis perlahan rontok satu persatu, kulitnya menghijau dan kupingnya melancip. Dia mengangakan mulutnya, memperlihatkan deretan gigi-gigi tajam dan lidah bercabang sebelum meraung keras. Tubuhnya yang gempal membesar hingga kemeja yang dikenakannya terkoyak, menampilkan kulit hijau bersisik dan menggelambir dengan lengan berukuran dua kali lengan manusia normal.

Sepasang kaki pemuda pirang itu bergerak kencang, berpacu menuju makhluk hijau di depannya. Dia tersenyum lebar, jemarinya bergetar hebat dan bayangannya bergerak cepat merayapi punggung sebelum menyelimuti seluruh tubuh ramping itu.

Tinju monster hijau itu terayun keras dan menghantam udara kosong sebelum bersentuhan dengan aspal yang seketika retak menerima kepalan keras itu.

“Di balik bayangan, para ksatria kegelapan mengintai. Terlahir dari kematian, datang untuk mengembalikan setan ke tempat mereka berasal. Terimalah kehormatanmu untuk diantar kembali olehku…”

Sosok ramping yang dibalut bayangan hitam itu berdiri tegak di atas bangkai mobil yang terbalik. bayangan itu lalu menghilang bagai dihembus angin, memperlihatkan ksatria dengan zirah berwarna merah menyala dengan jubah berwarna senada berkibar dihembus angin.

“Ksatria Neraka, Mephisto!”

Dengan satu lompatan, Mephisto memutar tubuhnya di udara dan menjatuhkan tumitnya mengincar kepala monster hijau itu. Gerakan itu diantisipasi dengan lengan bersilang dan lonjakan tubuh sang monster, mengakibatkan tubuh ksatria merah itu kembali terpental ke udara.

Monster hijau itu mengerang, kedua lengannya terluka dari gesekan dengan zirah yang tajam itu sementara benturan itu membuat Mephisto terpental dan berguling sebelum kembali berdiri dengan kuda-kuda, siap menyambut serangan berikutnya. Tidak sampai beberapa detik, kepalan hijau itu sudah mengayun ke arah sisi kepala Mephisto, memaksanya berjongkok untuk menghindar dan melompat dengan lutut terangkat ke arah dagu lawannya.

Panik, monster itu memundurkan kepalanya menghindari lutut kanan Mephisto. Namun gerakan ksatria itu tidak berhenti; kaki kirinya mengayun cepat menendang sambil bersalto membalikkan badan.

Teriakan membahana seiring monster itu memegang sebelah matanya yang terluka terkena sabetan ujung sepatu besi yang tajam bagai pisau. Mephisto merentangkan tangannya dengan jemari melebar, dan dari setiap ujung jemari itu, sebuah benang menjulur keluar dan melayang di udara.

Kesepuluh benang melayang bersilang saat Mephisto mengibaskan tangannya, membentuk jerat yang mengikat erat monster hijau yang berontak hebat. Menyadari dia tidak akan kuat menahan amukan makhluk itu, Mephisto membiarkan dirinya melayang mengikuti gerakan perlawanannya. Di ujung ayunan itu, dia mengarahkan tubuhnya ke arah salah satu tiang lampu jalanan dan menyangkutkan benang-benang itu di sana. Sekuat tenaga dia menarik benang itu, dan tubuh besar monster yang berontak tertarik mengikutinya. Terdengar suara keras saat tiang lampu itu tertarik miring, dan jatuh menimpa bangkai mobil bersamaan dengan melayangnya tubuh yang terjerat itu ke udara.

Krak.

Dengan kepala terlebih dahulu, monster itu menghantam aspal di samping robohan tiang lampu dengan percikan listrik di ujungnya. Berat tubuhnya melepaskan engsel-engsel yang menyambungkan punggung dan lehernya secara paksa, membuatnya terkapar tak berdaya tanpa tanda-tanda kehidupan lagi. Mephisto melirik percikan listrik itu yang menyambar bocoran bensin mobil itu, dan berdiri membelakanginya sambil mengibaskan jubah merahnya bersamaan dengan ledakan mobil itu.

Damn, I’m good,” ujarnya pada dirinya sendiri.

“Dan sebelum kamu protes lagi, yang penting dia mati,” dia berseloroh sambil memandang bayangannya.

– x –

Api masih menyala saat sosok tinggi ramping itu membuka sekaleng bir dan menghabiskan isinya dalam sekali tenggak. Zirahnya kini sudah tergantikan kaus lengan buntung ketat dan celana jins melorot yang dikenakan sebelumnya. Sambil melangkah masuk ke mobil sport ungu itu, dia melirik ke arah mayat monster yang kini sudah berubah menjadi mayat manusia yang terbakar.

“Kamu tahu aturannya kan, Puppe? Don’t drive drunk,” bayangannya berujar sebal.
I don’t drive drunk, I drink and drive,” ujar lelaki bernama Puppe itu sambil membuka jendela dan melempar kaleng birnya ke arah mobil lawannya yang terbakar.

He’s the drunken driver, or so the police will think.

Puppe tergelak sambil menginjak pedal gas mobilnya dan melesat menjauh.

~ What kind of devil obey the rule anyway? ~